I. Membuat larutan klorin
Dalam setiap tindakan, wajjjjibb hukumnya bagi
setiap tenaga medis untuk memperhatikan tentang pe-I (pencegahan infeksi). Maka
dari itu, wajjjjibb pula untuk mengetahui setiap langkah dari pe-I itu sendiri.
Hal dasar yang wajjjjib dimengerti oleh para tenaga medis mengenai pe-I, salah
satunya adalah bagaimana membuat laruan klorin 0,5 %.
Nah, di bawah ini, iang akan share sedikit tentang
bagaimana cara membuat larutan klorin tersebut, mudah-mudahan dapat bermanfaat!
Untuk membuat larutan klorin, yang pertama harus
dilakukan adalah menentukan dulu jenis konsentratnya. Karena, lain jenis lain
pula cara perhitungnnya. Hanya dibutuhkan sedikit perhitungan yang sangat
sederhana..
1. Bila jenis
konsentrat yang digunakan adalah bubuk, maka rumus perhitungannya . . .
2. Jika jenis
kosentrat yang digunakan cair, maka rumusnya..
Contoh:
1. Cara membuat
larutan klorin 0,3% dari konsentrat klorin bubuk 15% yaitu
Untuk membuat larutan klorin 0,3% dari konsentrat
klorin15% adalah dengan menlarutkan 20 gr bubuk klorin konsentrat dalam 1 Liter
air DTT.
2. Cara membuat
larutan klorin 0,1% dari konsentrat klorin cair 5%
Untuk membuat larutan klorin 0,1% dari konsentrat
klorin5% adalah dengan menlarutkan 1 bagian klorin dalam 49 bagian air DTT.
II. Proses Pencegahan Infeksi (pe-i)
Alat tidak habis pakai yang sudah digunakan
langsung didekontaminasi dengan merendam hingga seluruh bagian alat terendam ke
dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Setelah dekontaminasi dilakukan,
kemudian peralatan di cuci dengan sabun (bila perlu disikat) hingga bersih lalu
dibilas dengan air. Untuk proses selanjutnya peralatan tersebut dapat di
sterilkan atau di DTT (disinfeksi tingkat tinggi), tergantung kebutuhan/tujuan
penggunaan peralatan selanjutnya.
1. STERILISASI
Sterilisasi atau proses mensterilkan alat yang
sudah dicuci dan dibilas hingga dapat digunakan kembali. Dengan proses inilah
semua (100%) organisme/bakteri penyebab infeksi dapat dibunuh, termasuk
endospora. Sehingga alat yang sudah disterilkan dapat digunakan kembali dengan
aman, tanpa menimbulkan resiko penyebaran infeksi baik pada petugas maupun pada
pasien (terutama infeksi nosokomial).
Ada beberapa cara mensterilkan alat, yaitu:
a. Sterilisasi Uap
Yaitu proses sterilisasi alat dengan menggunakan
autoklaf, yang cara kerjanya menggunakan panas dan tekanan sehingga dapat
membunuh semua bakteri dengan efektif. Semua jenis peralatan dapat disterilkan
dengan menggunakan metode ini.
Bila menggunakan autoklaf untuk proses sterilisasi,
maka harus digunakan pada suhu 121ºC dan 106kpa selama 20 menit untuk alat yang
tidak dibungkus kain dan 30 menit untuk alat yang dibungkus kain. Kemudian alat
didiamkan hingga kering sebelum diangkat atau digunakan.
b. Sterilisasi Panas
Kering
Proses sterilisasi dengan panas kering adalah
dengan menggunakan oven. Peralatan yang dapat diserilkan dengan metode ini
hanya jenis logam & kaca saja. Prosesnya dilakukan selama 1 jam pada suhu
170ºC . Namun, khusus alat-alat yang tajam (gunting, jarum, dll) diproses
selama 2 jam pada suhu 160ºC. Hal ini dikarenakan proses sterilisasi alat tajam
pada suhu yang lebih tinggi dan pada waktu yang lebih lama, akan membuat
peralatan tajam tersebut menjadi tumpul terlebih lagi bila dilakukan terus
menerus.
c. Sterilisasi
Kimia
Proses sterilisasi juga dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan-bahan kimia, diantaranya dengan menggunakan Glutaraldehid
(Cydex), dan Formaldehid 8%. Pada penggunaan glutaraldehid (Cydex), caranya
dengan merendam peralatan (sudah dicuci, dibilas, dan dikeringkan) selama 8-10
jam (minimal) kemudian dibilas dengan menggunakan air steril (aquades atau
aquabides).
Semua peralatan yang sudah dicuci dan dibilas dapat
langsung disterilkan (tanpa dikeringkan) dengan cara sterilisasi uap dan panas
kering. Namun, khusus cara kimia, harus dikeringkan dulu sebelum disterilkan
agar kandungan dalam larutan kimia yang digunakan tidak berubah akibat pegaruh
dari air yang menempel pada peralatan yang belum dikeringkan tersebut.
Beberapa metode sterilisasi di atas, dapat membunuh
seluruh bakteri/organisme termasuk endospora dengan persentase hingga 100%.
2. DTT (Disinfeksi Tingkat Tinggi)
Disinfeksi tingkat tinggi, merupakan salah satu
metode pencegahan infeksi yang dapat dilakukan sebagai alternatif jika tidak
dilakukan sterilisasi karena ada tindakan tertentu yang memang/boleh
menggunakan peralatan yang hanya di-DTT saja.
Ada beberapa cara DTT, yaitu:
a. Merebus
Pertama-tama, yang harus dilakukan adalah merendam
peralatan secara keseluruhan (seluruh bagian alat terendam air) dalam air yang
akan direbus. Kemudian didihkan air dan mulai menghitung waktu saat air mulai
mendidih selama 20 menit dalam panci tertutup. Setelah itu, alat dapat
digunakan. Sebaiknya digunaka sesegera mungkin atau disimpan di dalam wadah
(yang sudah di-DTT) tertutup. Waktu maksimal penyimpanan selama satu minggu.
b. Mengukus
Mengukus peralatan yang akan di-DTT, hamper sama
halnya denga mengukus kue. Hanya saja dalam proses DTT, dilakukan selama 20
menit kemudian api dikecilkan sehingga air tetap mendidih. Waktu
penghitungannyapun dimulai saat keluarnya uap. Setelah itu, dikeringkan sebelum
diimpan
c. Kimia
DTT dengan kimia, dapat menggunakan klorin 0,5%
untuk alat yang tidak akan berkorosif (berkarat), klorin 0,1% (untuk peralatan
yang mungkin berkorosif), formaldehid, dan glutaraldehid.
Cara DTT pada peralatan dengan metode kimia hamper
sama denga proses sterilisasi dengan kimia. Hanya saja terdapat perbedaan pada
waktu, yaitu haya 20 menit, dan air yang digunakan adalah air DTT. Peralatan
yang di-DTTpun hanya dapat disimpan dalam waktu maksimal 1 minggu.
Pada hasilnya, dengan DTT memang dapat membunuh
bakteri-bakteri/organisme-organisme pada peralatan yang didisinfeksi. Namun
berbeda dengan sterilisasi, dimana dengan sterilisasi dapat membunuh ensodpora
yang dapat menyebabkan tetani namun dengan DTT tidak.
Secara sederhana (supaya ngga bingung…) dapat
dilihat bagan di bawah ini:
Keterangan:
Dekontaminasi : yaitu proses pe-i dengan merendam
alat yang sudah digunakan dalam tindakan, ke dalam larutan klorin 0,5% selama
10 menit. Usahakan tidak kurang atau lebih dari waktu yang sudah ditentukan.
Karena proses dekontaminasi yang terlalu sebentar akan tidak efektif, dan bila
terlalu lama akan menimbulkan korosif pada alat yang terbuat dari logam apabila
dilakukan terus menerus. Peralatan yang direndampun harus terendam seluruh
bagiannya dan khusus peralatan yang memiliki engsel (gunting, klem, dll),
direndam dalam keadaan terbuka. Pada proses dekontaminasi inilah virus hepatitis
dan HIV dapat dibunuh. Jadi dekontaminasi ini merupakan langkah pencegahan
infeksi yang pertama, sederhana, namun sangat penting.
Cuci & bilas :
proses ini sebaiknya dilakukan menggunakan sikat, agar semua kotoran yang
menempel pada peralatan dapat dibersihkan.
Perlu diingat!
Setiap melakukan pencegahan infeksi, terutama pada
proses dekontaminasi dan cuci bilas,
petugas tidak boleh TIDAK menggunakan
handscone (rumah tangga).
Karena penggunaan handscone merupakan salah satu
tindakan pe-i
yang dapat menghindarkan petugas dari terpaparnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar